Konsep Pencarian
Kebenaran Oleh Pemikir Rasionalisme
Pendahuluan
Belajar Filsafat memiliki kesamaan dengan berpariwisata.
Wisatawan yang bosan dengan rutinitas sehari-hari ketika menemukan pemandangan
alam, dirinya akan menemukan banyak hal baru yang akan menyegarkan dirinya.
Jika ditarik atau dihubungkan dengan belajar filsafat, bedanya wisatawan
tersebut merasa segar ketika menemukan pemikiran-pemikiran dan dunia gagasan baru.
Dengan memelajari Filsafat, kita akan bersua dengan banyak ide yang belum
pernah kita pikirkan sama sekali.
Perjalanan Filsafat hingga masa kini telah mengalami kemajuan dan
kemunduran. Dari mulai Zaman kuno Yunani dan Romawi, Abad Pertengahan, hingga
Masa modern. Pada awal Abad Pertengahan, dunia Barat atau Eropa dikuasai oleh dogma
keagamaan dari Gereja Katholik.
Dogma keagamaan begitu dominan hingga memengaruhi seluruh aspek kehidupan, baik
dalam tatanan sosial, budaya, politik, hukum, dan ekonomi. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan filsafat berjalan di tempat. Buku-buku peninggalan Yunani dan
Romawi kuno sulit ditemukan.
Lebih lanjut, Abdul
Rahman mengemukakan bahwa kebangkitan Eropa (Renaissance) dimulai dari ide-ide
brilian Francesco Petrarch (1304-1374). Seorang pemikir humanis yang menyukai
karya sastra dan moralis yang berasal dari Italia. Pemikirannya mempengaruhi
pemikir di era selanjutnya, seperti Copernicus, Kepler dan Galileo. Keinginan
kuat Petrarch adalah membebaskan manusia dari pemikiran kaum skolastik yang ia
anggap mengekang potensi-potensi manusia untuk berkembang serta menurutnya
Dogma Agama sebaiknya hanya bersifat individual saja.
Dari sini, perubahan pun terjadi sedikit demi sedikit.
Renassaince akrab dikenal sebagai masa pencerahan, yaitu
suatu masa di mana menganggap lebih penting mengedepankan rasio untuk
mendapatkan kebenaran. Pada masa ini,
hal-hal yang lebih mengedepankan emosionalitas dan pengalaman indrawi tidak
banyak mendapatkan perhatian lagi dibanding masa-masa sebelumnya. Puncaknya
terjadi antara pada abad ke-16 dan 19 muncul beberapa pemikiran mengenai philosophy
of science.
Dari sini muncul beberapa aliran yang begitu terkenal hingga masa kini, yaitu
Rasionalisme, Empirisme dan Positivisme Kritisisme, Idealisme, Naturalisme,
Materialisme, Intusionalisme, Fenomenalisme dan Sekularisme.
Pada kesempatan kali ini, penulis tertarik untuk membahas lebih lanjut mengenai
pemikir Rasionalisme mengenai kebenaran, karena menurut penulis aliran ini
sangat memengaruhi ilmu pengetahuan yang membentuk masyarakat modern.
Kerangka Teori
Para mahasiswa yang mengambil mata kuliah atau jurusan
Filsafat pasti tidak asing dengan anggapan bahwa Rasionalisme bertolak dari
rasio dan berpendapat bahwa setiap pengetahuan yang berharga berasal dari
rasio. Agus Abdul Rahman berpandangan bahwa Rasionalisme merupakan kebalikan
dari Empirisme.
Rasionalisme menentang pandangan Empirisme yang menyatakan bahwa pengalaman
indrawi merupakan satu-satunya sumber yang bisa dipercaya. Rasionalisme
memiliki gagasan tersendiri bahwa rasio merupakan satu-satunya sumber yang bisa
dipercaya. Menurut pandangan Rasionalisme,
aliran Empirisme mengalami kekeliruan yang disebabkan oleh kelemahan indra dan
bisa saja dibetulkan jika akal digunakan.
Sebenarnya Rasionalisme tidak menghilangkan peran indra dalam
memperoleh suatu pengetahuan. Hanya saja, guna indra di sini adalah untuk
merangsang akal dan memberikan subjek yang menyebabkan akal mampu beraksi.
Bedanya, akal mampu menghasilkan pengetahuan yang tidak berpatokan pada subjek
indra. Singkatnya, akal mampu mewujudkan pengetahuan mengenai objek yang
benar-benar abstrak. Dengan
pemikiran yang seperti itu, kita mudah mengambil contoh bahwa manusia bisa
memaksimalkan akal untuk menemukan jawaban atas segala masalah yang dihadapinya
termasuk mencari kebenaran.
Seorang pelopor aliran Rasionalisme, Rene Descartes, menolak
gagasan mengenai pengalaman indrawi adalah sumber hakiki pengetahuan manusia. Sudah
pasti berbanding terbalik dengan aliran Empirisme. Descartes menentang gagasan
Francis Bacon dan Thomas Hobbes yang merupakan pelopor aliran Empirisme.
Menurut pandangannya, adanya akal dalam pencarian kebenaran adalah
hal penting yang perlu diungkap. Dengan
lantang dia mengungkapkan keraguannya terhadap segala hal yang mampu dilihat
oleh indra manusia. Oleh karena itu, dirinya mulai meragukan (skeptis) terhadap
segala hal (yang pastinya berhubungan dengan indra manusia). Seperti ketika
seseorang bermimpi mengenai suatu hal dan menganggap bahwa hanya merupakan
bentuk mimpi, alih-alih apa yang dimimpinya benar terjadi. Adapun yang
ditawarkan Descartes untuk mencapai kebenaran adalah memakai pisau analisis metode
matematika dan tidak mengherankan karena beliau merupakan seorang Ahli
Matematika. Jika ditelisik lebih dalam, metode matematika memiliki arti
membuktikan sesuatu dengan menggunakan akal dan memiliki dua cara pembuktian
yaitu intuisi dan deduksi.
Descartes khusus menyusun karya mengenai pencarian kebenaran
melalui metode keragu-raguan yang berjudul A Discourse on Methode yang
perlu memerhatikan empat hal: 1.
Bisa disebut kebenaran ketika telah benar-benar indrawi dan realitasnya jelas
dan tegas sehingga tidak akan muncul keraguan sedikit pun yang bisa
menggagalkannya, 2. Pecahkanlah setiap kesulitan atau problem
sebanyak-banyaknya, sampai tiada satu keraguan yang mampu menggagalkannya, 3. Identifikasi
semua kemungkinan dari satu masalah, 4. Setiap melakukan pencarian, harus
membuat perhitungan yang sempurna serta pertimbangan yang menyeluruh sehingga
memperoleh keyakinan tak akan ada yang mampu mengabaikannya.
Teori Kebenaran yang dipahami Descartes ini menekankan mengenai
pentingnya penegasan dan konfirmasi terhadap suatu fakta. Sesuatu tersebut bisa
dikatakan benar jika memang nyatanya benar. Apabila sesuatu tidak bisa
dibuktikan secara nyata maka sesuatu tersebut bisa dikatakan salah.
Oleh karena itu, runtutan fakta sangat ditekankan di sini.
Lebih lanjut, inti keseluruhan pemikirannya adalah slogan yang
begitu masyhur, Cogito Ergo Sum (Aku berpikir maka Aku ada). Menurutnya,
sesuatu eksis apabila secara subjektif memang benar ada. Dirinya bertanya
mengenai Mengapa kebenaran itu bersifat begitu pasti? Tetapi kemudian menjawab,
karena dirinya mengerti hal itu dengan sangat jelas dan terpilah-pilih.
Pengertian Jelas adalah tidak perlu dipertanyakan kembali dan mampu menjelaskan
dirinya secara mandiri. Terpilah-pilih di sini memiliki suatu ide terpisah dari
ide lainnya. Oleh karena nya, Descartes mengemukakan suatu kriteria kebenaran
adalah ketika saya mampu memahaminya dengan jelas dan terpilah-pilih
Tokoh Rasionalisme lain yang melanjutkan pemikiran Descartes adalah
Baruch De Spinoza (1632-1677). Seperti Descartes, metode Matematika adalah
metode yang dipakai olehnya sebagai pisau bedah suatu permasalahan.
Jika Descartes memegang konsep Cogito dalam hidupnya, lain lagi dengan
Spinoza yang memegang konsep substansi. Menurutnya suatu ide tidak mungkin
tanpa konsep substansi serta merupakan suatu yang ada dan dipahami pada dirinya
sendiri.
Spinoza berpendapat hanya ada satu substansi, yaitu Allah. Satu
substansi ini meliputi keseluruhan (baik manusia maupun dunia). Hakikat dari
substansi ini adalah segala sesuatu tampak individual.
Dengan pemikiran mengenai subtansi ini, pandangan Spinoza terkenal dengan
istilah Panteisme,
Allah disamakan dengan segala hal yang ada. Lebih lanjut, Spinoza menunjukkan
pemahamannya sebagai rasionalis dengan memaparkan tiga kategori pengetahuan,
kategori persepsi indrawi atau imajinasi, kategori refleksi
yang focus pada prinsip-prinsip dan kategori intuisi. Menurutnya, yang
disebut pengetahuan sejati adalah hanya pada kategori kedua dan ketiga.
Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) dari Jerman banyak
membicarakan substansi. Menurutnya, Subtansi tidak terbatas dan menamakannya
dengan Monade. Monos berarti satu sedangkan Monad berarti satu unit. Monade
bukan bersifat jasmani dan tidak bisa dibagi. Leibniz memaparkan contoh Jiwa.
Jiwa merupakan satu Monade tetapi di satu sisi juga merupakan kumpulan materi
yang terdiri dari banyak Monade. Monade
di sini memiliki kesamaan konsep seperti Coguto nya Descartes yang cenderung
tertutup.
Leibniz mengungkapkan bahwa antara satu Monade dengan Monade yang
lain berbeda. Tuhan merupakan Supermonad yang berarti Dia satu-satunya Monade
yang tidak dicipta karena merupakan pencipta dari seluruh Monade-monade
tersebut. Pada bagian ini, Bertens menjelaskan dengan gambling mengenai
Bagaimana Jiwa (suatu Monade) dapat bekerja sama dengan tubuh (terdiri dari
banyak Monade) dan sebaliknya? Jawabannya adalah karena kuasa dari Supermonade
yaitu Tuhan mengadakan suatu keselarasan yang ditentukan sebelumnya.
Satu tokoh lagi yang akan sedikit penulis bahas kali ini, yaitu
Christian Wolff (1679-1754). Bertens mengungkapkan bahwa karena peran dan
pengaruh Wolff, rasionalisme menjadi begitu dominan di Jerman pada masa itu.
Wolff merupakan tokoh yang mengolah dan mengembangkan pemikiran Leibniz menjadi
suatu sistem dan menerapkannya terhadap segala bidang ilmu pengetahuan.
Meskipun dalam penyusunannya banyak menggunakan unsur skolastik.
Pandangan atau
argumentasi pribadi
Menarik sekali ketika membicarakan mengenai salah satu aliran
epistemology yang terkenal ini, Rasionalisme. Penulis selalu ingat perkataan
seorang teman yang mengatakan bahwa penulis cenderung lebih berat pada rasio.
Setelah penulis membaca meskipun tidak begitu mendalam mengenai aliran
Rasionalisme ini, penulis merasa bukan bagian dari penganut aliran ini. Banyak
sekali perbedaan antara teori-teori yang telah dikembangkan oleh Descartes,
Spinoza, Leibniz dan Wolff dengan apa yang penulis rasakan. Meskipun pada
bagian ini, penulis tidak akan memaparkan mengenai perbedaannya.
Dari beberapa literatur yang telah penulis baca, penulis setuju
dengan gagasan yang menyatakan tanpa rasio maka mustahil manusia tersebut
memperoleh pengetahuan. Karena rasio merupakan berpikir, berpikir ini selanjutnya
akan membentuk suatu pengetahuan. Sudah tentu, manusia memiliki peran sebagai
bagian dari masyarakat, oleh karenanya manusia ini akan saling membagi
pengetahuan tersebut. Selanjutnya bisa dipahami, semakin banyak yang berpikir
maka semakin banyak juga yang akan saling membagi pengetahuan. Berdasarkan
pengetahuan ini pula, manusia berperilaku dan memilih tindakannya. Dengan dasar
ini, muncul lah berbagai jenis perbedaan perilaku, perbedaan dan tindakan
manusia yang dipengaruhi oleh pengetahuan yang telah didapatinya.
Jika ditarik pada masa kini, rasio tidak bisa berdiri sendiri.
Untuk berpegang teguh pada Rasio di masa Post-Truth sekarang agaknya cukup
sulit dan rumit karena pastinya pengalaman seseorang akan memengaruhi persepsi
yang dibangun secara tidak sadar oleh dirinya sendiri. Banyaknya informasi yang
diperoleh oleh seseorang pastinya memengaruhi bagaimana dirinya berpikir. Oleh
karenanya, rasio juga membutuhkan kenyataan yang tampak. Penulis meyakini bahwa
semakin sering rasio diasah dengan berhubungan langsung dengan kenyataan yang
tampak atau realitas, maka semakin dekat pula pada suatu hal yang disebut
dengan kebenaran.
Satu permasalahan lagi yang ingin penulis kaji lebih mendalam,
yaitu penulis khususkan pada Descartes dengan konsep Cogito Ergo Sum
nya. Merujuk pada Budi Hardiman ketika membahas Hermeneutika Paul Ricoeur yang
menyatakan bahwa kesadaran yang ditemukan oleh Descartes (Cogito) ini
cenderung memisahkan aktivitas berpikir dari tubuh.
Tubuh dilihat dari luar, yaitu dari pikiran murni. Lebih lanjut, karena melihat
dari luar tubuh, cogito atau kesadaran murni ini bentuknya transedental dan
melihat peristiwa-peristiwa seolah dari luar sejarah. Dari ini bisa dipahami,
manusia selain makhluk berpikir, juga makhluk bertubuh dan mendunia. Oleh
karena itu, kehendak manusia diwarnai oleh tegangan antara kebebasan dan
keniscayaan. Maka “aku berpikir” bukan hanya “aku sedang berpikir” tetapi juga
“aku hendak berpikir”.
Kesimpulan
Dalam mencari kebenaran, para tokoh Rasionalisme menekankan pada
eksplorasi akal sebagai subjek yang sangat luar biasa. Ide-idenya sangat
menarik jika dipelajari secara mendalam. Slogan-slogan menarik yang dipaparkan
atau dicetuskan oleh tokoh-tokoh yang bersangkutan, seperti Cogito Ergo Sum,
Substansi dan Monade menurut penulis merupakan suatu terobosan
penting dalam kelanjutan ilmu pengetahuan tidak hanya dalam ranah filsafat
tentunya, hingga masa kini. Hanya saja, kita sebagai mahasiswa tidak serta
merta hanya melihat dari satu aliran epistemology saja, tetapi harus
meintegrasikannya dengan aliran epistemology lain yang akan turut membantu
mengungkap suatu cara untuk menemukan kebenaran yang hakiki.
Referensi
Budi Hardiman, F. Filsafat modern: dari Machiavelli
sampai Nietzsche : suatu pengantar dengan teks dan gambar. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Dr. Agus Abdul Rahman, M.
Psi., Psikolog. Sejarah Psikologi Dari Klasik Hingga Modern. 1st ed.
Kota Depok: PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, 2019.
F. Budi Hardiman. Seni
Memahami Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. 8th ed.
Yogyakarta: PT. Kanisius, 2015.
H. Muhammad Bahar Akkase
Teng. “Rasionalis Dan Rasionalisme Dalam Perspektif Sejarah.” Jurnal Ilmu
Budaya 4, no. 2. Desember (2016).
https://journal.unhas.ac.id/index.php/jib/article/view/2348.
K. Bertens, Johanis
Ohoitimur, and Mikhael Dua. Pengantar Filsafat. 2nd ed. Yogyakarta: PT.
Kanisius, 2019.
Praja, Juhaya S. Aliran-aliran
filsafat & etika. Jakarta: Prenada Media, 2005.
Riyadi, Agus, and Helena
Vidya Sukma. “KONSEP RASIONALISME RENE DESCARTES DAN RELEVASINYA DALAM
PENGEMBANGAN ILMU DAKWAH.” An-Nida : Jurnal Komunikasi Islam 11, no. 2
(December 27, 2019). Accessed November 27, 2020. https://ejournal.unisnu.ac.id/JKIN/article/view/1026.
Setia Budhi Wilardjo.
“Aliran-aliran Dalam Filsafat Ilmu Berkait Dengan Ekonomi.” Jurnal Unimus
(n.d.). http://jurnal.unimus.ac.id.